MERAPI KALIURANG
D'PAMOR EVENT.
⚠ lowercase area! ⚠
· ──────────────── ·
aktivitas glabyna berhenti karena ponselnya berbunyi, terpampang nomor yang tidak dikenal dilayar ponselnya.
"hallo?"
"hallo, glabyna? berkenan berpartisipasi dalam film kami? kami akan membayar lima puluh juta per episode."
"seriously? tentu saja aku mau. tapi, bisa tolong jelaskan konsep film dan aku harus apa nanti?"
"tentu saja, besok datanglah ke rumah peninggalan belanda yang ada di gunung merapi kaliurang, kamu tahukan? kita akan melakukan shooting di sana, setelah sampai kami akan menjelaskan semuanya. Jika anda berkenan, bayaran akan saya kirim setengahnya besok pagi."
glabyna menjauhkan ponselnya dari telinga, lalu menatap layar ponsel itu.
"wah ... lima puluh juta dalam satu episode, aku sangat berani menerima tawaran ini kalau bayarannya segitu banyak."
ia meletakan ponselnya dan kembali terfokus pada laptopnya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
━━━━━
siang hari yang sangat menyengat, perjalanan menuju ke gunung merapi kaliurang memakan waktu sekitar 8 jam. glabyna sampai ditempat tujuan ketika jam menunjukan ke angka 17.21
"loh? hanya ada beberapa orang saja di sini?" glabyna melihat-lihat sekitar, hanya ada lima orang yang berada di situ.
"selamat sore. aku glabyna, salah satu pemeran dari film yang akan dibuat ini."
"eh? sore. aku lindya, sebelah kanan saya ini tiffany dan juna, sebelah kiri saya ada ray dan labena." glabyna dan kelima orang itu saling melempar senyuman.
glabyna melihat-lihat bangunan kuno peninggalan belanda yang ada di depannya, "untuk kedua kalinya aku shooting di sini," batinnya.
"ah ya, apa hanya ada kalian saja di sini? para kru dimana?"
mereka hanya melempar tatapan satu sama lain, glabyna menaikan satu alisnya dan menghubuskan nafas berat.
"yasudahlah, mungkin para kru akan datang nanti malam. langit sudah mulai gelap, sebaiknya kita menunggu kru datang di dalam, sekalian beristirahat," ucap glabyna.
"di dalam? di rumah ini?" ucap juna.
"ya, aku tau dimana tempat yang bisa kita tempati. saya pernah ke sini, tempatnya cukup aman."
"tapi mungkin sekarang berbeda dari sebelumnya," batinku.
mereka pun masuk ke dalam bangunan peninggalan belanda tersebut. sesampainya di ruangan yang glabyna maksud ia merasakan ada yang aneh dan berbeda dari sebelumnya.
"kita akan bermalam di sini."
langit mulai gelap, waktu berjalan dengan cepat. mereka tertidur, lelah menunggu kru yang tidak datang-datang.
· ─────── ·
bintang-bintang dan ratu malam telah pergi, pagi hari mentari seolah mengintip dari peraduannya. udara dingin membangunkan glabyna dan rekan-rekannya.
"lindya mana?" tanya tiffany dengan keadaan yang belum sepenuhnya sadar.
"sepertinya dia pergi ke luar, aku akan menghampirinya."
katika labena pergi menghampiri lindya suasana di tempat glabyna, tiffany, ray, dan juna sangatlah hening. mereka terfokus pada aktifitasnya masing-masing.
suara bantingan pintu terdengar sangat jelas, membuat semua orang yang berada di ruangan itu terkejut.
"lindya tidak ada di luar! kita harus mencarinya, cepat!"
"tunggu dulu, agar lebih mudah kita bagi tugas. aku dan tiffany mencari di lantai atas, juna dan ray di lantai bawah. labena, kamu cari lagi di luar. ayo, berpencar!"
mereka melaksanakan tugas yang sudah diberikan, beberapa menit kemudian mereka kembali menuju ruangan yang mereka tempati semalam.
"apa kalian menemukannya?" tanya juna.
"aku sudah mencari dengan sangat-sangat teliti, tapi aku sama sekali tidak menemukannya," ucap labena.
"aku juga," ucap yang lainnya kompak.
"tunggu, dimana ray?"
"loh, aku baru sadar ray tidak ada," ucap glabyna.
"sial, kita belum menemukan lindya sekarang malah ray yang hilang. kita cari dia disetiap ruangan sebelah kanan yang berada di lantai bawah ini, tadi dia memeriksa tempat itu kan?"
mereka saling memandang satu sama lain, bergegas menuju ke ruangan-ruangan yang diperiksa oleh ray.
semua ruangan sudah diperiksa, tetapi mereka tidak menemukan ray sama sekali. glabyna melipat kedua tangannya dan menghentakan kakinya pelan.
"aku baru ingat! ada satu tempat lagi yang belum kita periksa, tempat itu merupakan ruangan bawah tanah," ucapnya.
"tolong pimpin jalan, kita periksa ruangan itu."
glabyna menganggukan kepalanya dan memimpin jalan untuk menuju keruangan bawah tanah.
"ketemu! ini pintu masuknya."
juna membuka pintunya. "tidak terkunci," batinya.
tidak ada penerangan, tercium bau-bau amis dan sedikit bau busuk. tiffany menyalakan senter ponselnya, semuanya terkejut bukan main.
· ─────── ·
"duh, rumah ini menyeramkan. lindya dimana sih? aku lelah mencarinya," ucap ray.
ia sudah mencari disetiap ruangan, saat ia hendak kembali berkumpul dengan rekannya yang yang ia mendengar suara-suara aneh.
"suara apa itu?" batinnya
ray mencari keberadaan sumber suara tersebut dan menemukan pintu ruang bawah tanah, ia membuka pintunya dan masuk ke dalam.
"ugh! bau sekali, ruangannya benar-benar gelap ... aku harus kembali."
matanya terbuka lebar, mulutnya mengeluarkan darah. beda tajam telah menusuk tubuhnya dan sang pelaku ... tertawa puas.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
━━━━━
"tidak mungkin, mereka semua ... mati." tangan tiffany bergetar, ponsel yang ditegangnya hampir terjatuh.
"ternyata perasaanku selama ini benar, ada yang mengawasi kita. aku mengerti sekarang, bayaran yang besar itu adalah bayaran untuk ... mati," batin glabyna.
"kita harus kembali! cepat!"
"t-tunggu." juna menahan tangan glabyna lalu melihat ke arah ray dan lindya berada.
"apa lagi? kita harus memanfaatkan waktu, jika tidak kita semua akan terbunuh di sini."
"baiklah." ia melepas tangan glabyna dan mereka pun bergegas keluar dari bangunan peninggalan belanda tersebut.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Komentar
Posting Komentar